HairSnip.com

Your home for hair/hair cutting/head shaving stories and forums


My Wife's Bet
Author: Oni
Content: PG
Location: Barbershop
Category: Surprise
Type: Fiction
Post date: Monday, February 13, 2012
Language: Indonesian
Rating: 4.714.71 average from 21 readers
Page views: 7715   

Aku telah menikah selama 1 tahun. Saat ini kami masih belum dikaruniai putra. Suamiku adalah seorang yang santun, setia, pekerja keras, dan penuh perhatian pada keluarganya, meskipun seringkali suka jahil menggodaku. Kehidupan kami termasuk tenang. Walau belum berlebih, namun kami dapat memenuhi kebutuhan keseharian kami. Hidup hanya berdua membuat kami menikmati lanjutan dari masa pacaran kami. 

Hanya ada satu hal yang membuatku agak terganggu. Suamiku begitu terobsesi pada wanita berambut pendek. Menurutnya, wanita dengan rambut pendek sangat seksi. Namun bukan hanya itu. Ia ternyata juga terobsesi melihat wanita yang dipotong rambutnya. Khususnya bila rambut mereka dipotong pendek. 

Aneh rasanya mengetahui hal ini. Ia sendiri berterus terang mengenai obsesinya ini kepadaku. Aku menghargai keterus-terangannya. Walaupun agak tidak mudah bagiku untuk memahaminya. 

Aku barus sadar setelah mengingat-ingat pengalamanku sebelumnya. Ia selalu menyarankan ku untuk memotong pendek rambutku. Sejak menikah, rambutku selalu sepanjang bahu. Dengan beberapa variasi. Kini aku baru ingat, bagaimana ia begitu antusias ketika aku setuju untuk memotong rambutku. 

Awalnya aku selalu memintanya untuk mengantarkanku ke salon2 disekitar tempat tinggal kami. Aku baru ingat bagaimana ia begitu serius memperhatikan ketika rambutku dipotong. Aku sekarang ingat melihat raut kecewa diwajahnya ketika itu, jika aku hanya merapikan potongan rambutku. Sekalipun ia sering mendesakku untuk memotong rambutku lebih pendek, namun aku bisa bertahan untuk mempertahankan panjang rambutku yang sebahu. Beberapa kali aku setuju untuk memotong rambutku agak pendek dengan model bob. Dan melihat wajahnya yang puas ketika menyaksikan rambutku dipotong. 

Beberapa kali ia mengajakku untuk menemaninya potong rambut di tukang pangkas.

Aku sering memperhatikan bagaimana seorang tukang cukur melakukan pekerjaannya. Berbeda sekali dengan pengalamanku disalon-salon. Disini potong rambut tidak pernah diawali dengan mencuci rambut. Disini tukang pangkas hampir tidak pernah menyentuh rambut pelanggannya. Mereka menggunakan sisir untuk mengambil sebagian rambut, lalu memotongnya. Sekalipun aku tidak merasa nyaman berada di tempat yang didominasi kaum pria seperti itu, namun aku ingin menghormati suamiku dengan menemaninya potong rambut. 

Selama itu aku belum pernah melihat ada wanita yang memotongkan rambutnya di tempat pangkas rambut tradisional seperti itu. Melihat penampilan para tukang pangkas yang selalu kelihatan lugu, aku sendiri pun tidak yakin bila sorang tukang pangkas mau dan berani melayani wanita yang ingin memotong rambutnya. 

Suatu hari, kami berdua sama-sama jemu dengan kegiatan kami. Hari itu adalah hari Sabtu. Kami berdua tidak masuk kerja pada hari itu. Setelah menghabiskan pagi harinya untuk membersihkan rumah, kami bermalas-malasan di ruang keluarga sambil menonton tv. Kami melihat sebuah film asing. Aku sendiri lupa judulnya. Namun dalam salah satu adegannya, sang pemeran utama wanita harus merelakan rambut hitam dan tebal miliknya yang sepunggung panjangnya untuk dipotong. Ia melakukan itu di sebuah kedai cukur. 

Suamiku nampak begitu antusias menyaksikannya. Matanya menatap tajam ke tv. Sementara tangannya tak henti – henti mempermainkan rambutku , yang ketika itu aku tidur di pangkuannya.

Aku yang mengetahui hal itu berusaha menggodanya. Suamiku adalah seorang yang gemar bercanda dan agak jahil. Ia sering menggodaku hingga kesal aku dibuatnya. Belum pernah aku berhasil membalas kejahilannya. 

Kali ini aku ingin merasa mendapat kesempatan yang baik untuk membalasnya. Aku berusaha mengalihkan perhatiannya dari film itu. Aku yakin bisa membuatnya kesal, karena aku tahu ia begitu ingin meyaksikan adegan itu. Namun melihat remote control yang ada digenggamannya, aku harus mencari cara lain. 

Aku berusaha mengalihkan perhatiannya dengan terus-menerus menanyakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan film itu. Ia nampak mulai kesal. Dan berusaha untuk tidak menggubris pertanyaan-pertanyaanku. Ia kembali memusatkan perhatiannya ke film itu. 

Aku kemudian bangkit dari pangkuannya dan duduk meja rendah tepat dihadapannya. Dan kembali mengajaknya membicarakan hal-hal lain diluar film itu. Aku menanyakan pekerjaannya di kantor yang belum selesai dikerjakannya sejak beberapa hari lalu, mengingatkannya betapa bosnya selalu mengejar-ngejarnya dengan target2 dan hal-hal lain yang dibencinya. 

Ia nampak kesal dengan pertanyan-pertanyanku. Sambil berusaha menyingkirkanku dari hadapannya, ia terus memperhatikan film itu. 

Sekilas aku melihat ke tv dan si artis sudah kehilangan sebagian besar rambutnya.

Tukang cukur di film itu nampak bersemangat memotong rambut si artis. Dalam adegan itu si artis hanya duduk diam terpaku, menatap ke cermin sambil berusaha menahan air matanya. Sementara potongan rambut panjangnya berjatuhan di sekujur tubuhnya yang dibalut kain putih. 

Aku merasa berhasil menggoda suamiku. Aku senang melihatnya begitu kesal. Aku kemudian berdiri, duduk dipangkuannya dan berusaha bersikap seksi dengan memeluk dan berusaha mencium bibirnya. Tujuanku sebenarnya hanya untuk menghalangi pandangannya dari tv itu. 

Terkejut dengan perbuatanku, ia terhenyak kebelakang. Dan tanpa sengaja menekan remote di tangannya. Remote tv tua kami sudah rusak. Ia hanya bisa memindahkan channel satu persatu secara berurutan . Jadi ia harus susah payah mengengembalikan acara favoritnya tadi. 

Aku tertawa senang. Kali ini aku berhasil membuatnya frustasi. Dan memang ia nampak sangat kesal. Sambil mengomel ia berusaha secepatnya untuk mengembalikan channel ke acara tadi. Butuh waktu baginya untuk melakukan itu. 

Ketika akhirnya ia mendapatkan kembali channel itu, adegan potong rambut tadi sudah selesai. Dalam film itu si artis sudah selesai dipotong rambutnya. Ia duduk memperhatikan wajahnya dicermin. Dengan tumpukan rambut hitam tebalnya yang menggunung di pangkuannya, di pundaknya, dan berserakan dilantai.  Dan mata yang berlingan air mata, ia memperhatikan rambutnya yang sekarang lebih menyerupai potongan rambut suamiku. 

Sementara sang barber berdiri dibelakangnya, sambil tertawa lebar. Masih memegang gunting dan sisir di tangannya, ia berkata kepada si artis bahwa sekarang semua orang akan menganggap si artis adalah seorang pria. 

Dengan gerak cepat sang barber membuka kain penutup tubuh si artis. Menariknya, dan membuang potongan rambut itu dilantai. Sang artis hanya diam memandangi potongan rambutnya yang kini tergeletak di lantai. 

Perlahan ia lalu turun dari kursi sang barber dan menghampiri potongan rambutnya. Ia kemudian berjongkok dan berusaha mengumpulkan potongan rambutnya dan memasukkannya kedalam tas yang dibawanya. Sementara sang barber terlihat duduk dikursi yang tadi diduduki sang artis, mengambil koran dan terus tertawa lebar. 

Adegan dengan cepat berganti tayangan iklan.

Kami lalu berpandangan. Aku kembali tertawa keras, merayakan kemenanganku. Puas rasanya membalas semua kejahilannya padaku. 

Ia duduk terdiam, bersandar di sofa. Keliahatan marah sekali. Sementara aku masih belum bisa menghentikan tawaku.  Ketika akhirnya aku bisa mengendalikan diri, aku duduk disebelahnya.

Memeluknya, dan bersandar dibahunya.

Sambil berusaha bersikap mesra, aku berkata padanya,“sory, habis biasanya kamu jahil ke aku".

Dia hanya diam saja. Berulangkali kali aku berusaha mengajaknya bicara, tapi ia tetap bungkam.

Akhirnya kutinggalkan dia sendiri di sofa, dan menyiapkan makan siang untuk kami berdua.

Ketika makan siang sudah siap dan aku memanggilnya, ia juga tidak beranjak dari tempat duduknya. 

Kini aku yang mulai kesal. Terus terang aku paling benci dicuekin seperti ini. 

“Emangnya kenapa sih kalo kehilangan kesempatan lihat cewek dipotong rambutnya kayak tadi", tanyaku kesal.  Dia tetap bungkam. 

Kesal melihat sikapnya, entah mengapa aku berkata padanya," kamu pikir aku gak bisa kayak si artis itu?"

Dia lalu menjawab pelan,“emang kamu berani?" 

Aku pun menjawab, “kenapa enggak?"

Toh aku yakin tidak ada tukang pangkas yang berani menerimaku sebagai pelanggannya.

Dari pengalamanku menemani suamiku, belum pernah sekalipun aku melihat ada wanita yang dipotong rambutnya di kedai pangkas. 

Rasa isengku muncul kembali, menggantikan perasaan kesalku karena dicuekin olehnya.

Niatku meneruskan pembalasan atas sifat jahilnya selama ini muncul lagi. Dan melihat sikapnya yang mulai tertarik dengan pancinganku, aku yakin bisa kembali menggodanya. 

Aku meneruskan niat isengku dan berkata, “kalo ada tukang pangkas yang mau motong rambutku, aku buktikan kalo aku juga berani". 

Suamiku menjawab pelan," alah… gak percaya. Kamu belum pernah potong rambut pendek. Lagian mana berani kamu potong rambut di tukang cukur. Dilihat sama banyak orang, tempatnya juga gak nyaman…" katanya lagi. 

Kini egoku memuncak. Aku paling tidak bisa diremehkan seperti itu. Sifatku yang satu itu memang sangat dikenalnya.

“Kalo gitu kita taruhan!" ujarku.   “Taruhan apa?" jawabnya pelan. 

“Kamu kuberi 3 kesempatan untuk mencarikan tukang pangkas yang bisa motong rambut perempuan. Kalo dari 3 tukang pangkas itu gak ada yang bisa, aku minta kamu belikan jam tangan yang aku minta dulu". 

Bukan main, aku semangat sekali. Aku pernah memintanya membelikan sebuah jam tangan yang kulihat iklannya disebuah majalah wanita. Ketika itu ia menolak karena menanggapku terlalu konsumtif. Padahal aku sudah merasa jam tangan lamaku itu sudah usang. Ini kesempatan emas untukku mendapatkan keinginanku. Lagi pula aku yakin dia akan kesulitan mencarikan tukang pangkas yang bisa memotong rambut wanita. 

“Dan 3 kesempatan ini tidak boleh di tukang pangkas langgananmu".  Aku sengaja menambahkan syarat ini untuk mempersulit suamiku mencari tukang pangkas yang diinginkan. Aku yakin semakin tertutup kemungkinan baginya untuk memenangkan taruhan ini.

Waah… bayangan jam tangan itu seperti menari-nari di mataku. 

“Terus, kalau ada yang bisa?", katanya pelan.

“Kalo ada yang bisa, aku persilahkan dia untuk memotong rambutku sekehendaknya’.

Aku sengaja memancingnya agar menerima taruhanku. Dan agar ia tidak curiga pada niatku mendapatkan jam tangan itu. 

Lalu ia menjawab pelan “ya sudah. Deal", katanya.  Kami bersalaman dan suamiku bangkit dari sofa untuk makan siang.

Sambil makan ia berkata pelan, “Kapan mau dilaksanakan taruhannya?"

“Terserah", jawabku. “Makin cepat makin baik. Gimana kalo sore ini. Kalo gak ketemu, kita langsung ke Mall untuk beli jam tangan".   “Ya", jawabnya pelan.

Selesai makan kami bersiap-siap.

Jam menunjukkan pukul 14.00. Saat itu mendung. Jadi kami tidak khawatir kepanasan. 

Aku melihat suamiku termenung di meja makan. Aku yakin ia berusaha mencari dimana lokasi tukang cukur yang akan kami datangi. Lalu kutinggalkan ia untuk berganti baju dan berdandan.

Selesai bersih-bersih tadi pagi aku sempat mandi dan keramas. Jadi rambutku sudah oke. Kupilih baju santai terbaik milikku. Aku ingin mengintimidasi si tukang cukur dengan berpenampilan sedikit glamour. Agar ia semakin minder dan tidak berani memotong rambutku. 

Kudengar suara mesin mobil dinyalakan, dan suamiku berteriak memanggilku.

Akhirnya aku menyusulnya dan kami berangkat. Suamiku mengambil jalan memutar menuju Mall. Ia menuju pinggiran kota. Aku tak perduli. 

Di mobil aku menggodanya lagi. Sambil mempermainkan rambutku yang kini sebahu panjangnya, aku pura-pura berdoa. “Semoga aku masih bisa memiliki rambutku ini". Suamiku diam saja. 

Tiba2 ia menepikan mobilnya, lalu berhenti. Kulihat sebuah Barbershop yang cukup modern. Aku kaget. Sekalipun aku beberapa kali melewati jalan ini, namun aku tidak pernah memperhatikan ada Barbershop baru di jalan ini. 

“Ayo turun" katanya. Dadaku berdegup kencang. Sambil berjalan beriringan aku berusaha memperhatikan tempat itu. Barbershop itu nampak baru. Bersih. Ada 4 kursi barber didalamnya.  Dua kursi sedang menerima pelanggan pria. Sambil menggandeng tanganku, ia membuka pintu dan melangkah masuk. Ruangan itu terasa sejuk. Rupanya dilengkapi AC.

Ia mendekati seorang pria yang duduk di kursi barber, dan bertanya apakah disini bisa memotong rambut wanita. Si barber tampak terkejut, dan memandang kearahku. Sambil tergagap ia menjawab, “maaf pak. Disini tidak menerima wanita".

Aku tersenyum lebar. Suamiku tampak kecewa. Dan kami meninggalkan tempat itu. 

Kami meneruskan perjalanan kami. Sepanjang perjalanan aku tertawa-tawa kecil mengejeknya. Ia nampak tenang. Walau aku yakin ia berusaha memperhatikan apakah ada  tukang pangkas sepanjang jalan yang kami lalui. Namun usahanya nampak sia-sia. 

Agak lama kami berputar – putar, hingga sampai di pinggiran kota. Ketika kami berhenti di traffic light, pandangan kami tertuju ke sebuah kadai cukur.  Tempatnya agak tersembunyi di mulut sebuah gang. Aku kembali menggodanya dengan berkata “kesempatan kedua" ujarku sambil tersenyum menggodanya. 


Kami perkir tepat didepannya. Dari luar kami memperhatikan kedai cukur itu.

Pemiliknya seorang pria tua yang bertubuh tinggi besar. Hanya ada satu kursi disana. Ruangan itu juga tidak terlalu luas. Hanya ada 1 bangku sederhana untuk mereka yang menunggu giliran. Walau demikian tempat itu nampak sangat bersih dan terawat. 

Suamiku menggandengku masuk kedalam. Ia tidak bertanya dahulu pada tukang cukur itu. Kami langsung duduk di bangku. Suamiku masih menggenggam tanganku. 

Tukang cukur itu sedang melayani seorang pemuda. Dari pembicaraan yang kudengar, pemuda itu akan mengikuti Opspek di sebuah perguruan tinggi. Dan harus mencukur habis rambutnya. 

Si tukang cukur tidak banyak bicara. Dengan gerakan cepat, ia mengambil clipper electric dimeja kecil didepannya. Menyalakannya. Mendorong kepala si pemuda kedepan, dan langsung mencukur rambutnya.

Cepat sekali. Seringkali aku melihat tukang cukur suamiku menggunakan alat ini untuk merapikan rambut suamiku. Tapi aku belum pernah melihat orang digunduli seperti ini.

Sebentar saja pekerjaannya telah selesai. 

Aduh…! 

Jantungku berdebar keras. Aku baru ingat kalau aku disini untuk membuktikan keberanianku bertaruh dengan suamiku.  Kulirik suamiku, namun ia hanya diam saja. Aku melihat si tukang cukur dari tadi melirik kami.  Aku masih yakin, dengan penampilanku ia pasti minder untuk melayaniku. 

Si pemuda kemudian membayar tukang cukur itu lalu pergi. Sementara tukang cukur itu mengambil sapu, dan dengan tekun membersihkan sisa potongan rambut dilantai. Baru kemudian ia menghampiri kami. 

Ia tidak berkata apa-apa, dan melihat kepada suamiku. Tapi suamiku menunjukkan  jarinya pada diriku.  Lalu bapak itu mengangguk.

Ia membuka laci, mengambil kain penutup baru yang bersih, dan berdiri dibelakang kursinya. 

Astaga  !!!. 

Aku tidak menduga hal ini. Tiba-tiba saja dadaku berdegup kencang. Tanganku mendadak dingin. Aku melirik cermin besar dihadapanku. Rambut ku nampak begitu indah. Hitam dan tebal. Aku tidak mau menyerahkan rambutku ini pada pria tinggi besar dihadapanku. Aku yakin ia tidak punya pengalaman untuk memotong rambut wanita sepertiku. Aku juga tidak siap membayangkan bakal seperti apa rambutku nanti.

Aduh… aku takut sekali. 

Masih terbayang dimataku bagaimana ia dengan dingin menggunduli pemuda tadi.

Aku tak tahu berapa lama aku berdiri terpaku seperti itu. Namun kudengar ia berkata, “silahkan".

Lalu suamiku melepas genggaman tangannya dan melihat ke wajahku. Aku merasakan lututku gemetar. Memandang suamiku, menoleh ke pria itu. Mereka berdua menatap tajam kearahku. 

Perlahan aku mulai berdiri dan berjalan kearah kursinya. Melangkahkan kakiku ke step yang ada didepan kursi itu, lalu menjatuhkan tubuhku diatasnya. Itu adalah kursi barber kuno. Walau telihat tua, namun tampak bersih terawat. Ternyata nyaman juga duduk disitu.

Masalahnya di kursi ini aku harus merelakan rambutku dibabat habis oleh pria tinggi besar ini. 

Sambil menunggunya, aku kembali menatap wajahku dicermin. Aku nampak sangat ketakutan. Rambutku menggantung indah dipundakku. Ooh. Rasanya saat ini rambutku nampak begitu indah. Perlahan aku menolehkan kepalaku kekiri dan kanan. Mencoba melihat untuk terakhir kalinya rambut indahku ini. Tak sadar aku mengangkat tanganku dan membelai rambutku. 

Kudengar suara pintu dibelakangku ditutup. Kulihat tukang cukur itu menutup pintu dan memasang tanda “TUTUP" dijendela. Hal itu sedikit mengurangi keteganganku. Paling tidak hanya tukang cukur itu dan suamiku yang melihatku duduk tidak berdaya di kursi barber ini dan merelakan rambut indahku dihabisinya. 

Kulihat sumiku mengeluarkan handycam dan mulai mengabadikan apa yang sedang terjadi. Aku bahkan tidak tahu ia sempat membawa handycamnya. Tanpa bersuara ia mengambil posisi terbaiknya untuk merekam kekalahanku atas taruhan yang kutawarkan padanya. 

Pria itu mengambil handuk kecil, meletakkannya dipundakku. Kemudian kain penutup tadi diletakkannya dipangkuanku, lalu ditariknya dari belakang dan dijepitnya.  Aku merasa terperangkap dalam balutan kain ini. Di cermin kulihat seorang wanita muda yang tidak berdaya, dengan kepala menyembul dari kain putih itu. Rambut hitamku nampak kontras diatas kain putih itu. 

Tenggorokanku terasa kering. Aku berusaha meminta tukang cukur itu untuk tidak memotong rambutku terlalu pendek. Tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku melihat suamiku menatap tajam padaku. Taruhannya memang aku akan menyerahkan diri pada tukang cukur. Dan membiarkannya memotong rambutku sekehendaknya. Tadinya aku mengira ini tidak mungkin terjadi. Namun aku tersadar bahwa aku termakan ucapanku sendiri. Bayangan jam tangan idamanku perlahan pudar. 

Aku akhirnya menunduk lemas. Memaksa diriku untuk pasrah menerima akibat dari kecerobohanku. 

Aku merasa kepalaku didorongnya pelan kedepan, membuat daguku nyaris menyentuh dada.

Lalu kudengar suara “klak", dan ada suara dengungan halus dari arah belakangku. Aku masih berusaha mengira-ngira suara apa itu. Aku merasakan ada getaran dileherku. Aku terkejut. Sesuatu yang terasa dingin ditempelkannya dileherku dan getarannya membuat seluruh tubuhku terasa ikut bergetar. 

Ya Ampun!!!

Pria itu menggunakan clipper untuk memotong rambutku!!!

Clipper yang tadi digunakannya untuk menggunduli pemuda tadi. Sekarang ada di kepalaku dan siap membabat habis rambutku !! 

Kurasakan clipper itu bergerak ke atas. Suaranya berubah ketika menyentuh garis rambutku. Pelan tapi pasti clipper itu terus merambat naik. Aku betul-betul ketakutan. Tanganku menggenggam erat pegangan kursi, kakiku menekan step didepan kursiku. Tubuhku terasa menegang. Aku hanya bisa memejamkan mataku rapat-rapat, tidak bisa membayangkan apa yang terjadi. 

Ketika getaran itu berhenti, aku membuka mataku. Tiba-tiba kulihat potongan rambutku sepanjang sekitar 30 cm berjatuhan dipangkuanku dari atas kepalaku. Aku melirik ke arah suamiku. Ia tidak beraksi, dan meneruskan merekam kejadian tadi. Aku melirik ke cermin dan menyaksikan pria itu membawa clipper tadi kembali keleherku. Kali ini tangan kirinya menahan kepalaku untuk kembali menunduk. Sementara clipper ditangan kanannya kembali menyentuh leherku. Dan mulai merambat naik. 

Kali ini aku sudah tidak tahan lagi. Air mataku mulai mengalir. Clipper itu berubah suaranya ketika mulai mencukur rambutku. Pelan tapi pasti, clipper itu memangkas rambut tebal dibelakang kepalaku. Ketika getaran itu berhenti, kembali aku harus menyaksikan potongan rambutku berjatuhan disekujur tubuhku. 

Aku berusaha melihat kondisi rambutku. Aku menoleh kekiri dan kekanan dengan panik. Tapi aku tidak dapat melihatnya. Dari cermin tidak ada yang berubah dari diriku. Dari depan rambutku masih nampak tebal dan indah. Namun aku yakin, sesuatu yang buruk telah terjadi. 

Tukang cukur itu kembali meneruskan pekerjaannya. Dan rambut dari belakang kepalaku terus menerus berjatuhan di pangkuan dan pundakku. Selama itu tangan kirinya  dengan kuat menahan kepalaku agara terus tertunduk. Aku betul-betul tidak tahu apa yang terjadi pada rambut dibelakang kepalaku. 

Tiba-tiba ia berhenti. Reflek, aku mengangkat kepalaku. Berusaha melihat di cermin seperti apa jadi nya rambut dibelakang kepalaku. Tapi tetap tidak berhasil. Namun ketika kulihat kebawah, kulihat rambutku berserakan dilantai. Lantai keramik putih itu kini ditutupi potongan rambutku yang berserakan. 

Tukang cukur itu bergeser ke samping kananku. Tangan kirinya mendorong kepalaku miring ke kiri. Kemudian ia mengarahkan clippernya keatas telingaku. Dengan cepat ia mendorong clipper itu keatas. Rambut di sisi kanan kepalaku mulai berjatuhan kewajahku. Aku terbelalak melihat apa yang sedang terjadi. Clipper itu terus bergerak keatas, seakan tak mau berhenti. Ketika akhirnya pria itu menghentikan clippernya, ia mengguncang sedikit clippernya. Dan potongan rambut yang tarsangkut di ujung clipper itupun berjatuhan dipangkuanku. 

Dengan berdebar aku melihat hasil potongan rambut pria itu dari cermin. Ternyata rambutku tidak sependek yang kukira. Masih ada sekitar 4 cm yang menempel dikepalaku. Kulihat lagi clipper yang digunakannya. Ternyata ada semacam sisir yang ditempelkan diujung clippernya. Rupanya attachment ini yang memberi jarak clipper dengan kepalaku. Sehingga seperti apapun ia menjalankan clippernya, tetap tersisa rambut sepanjang ukuran dari attachment itu. 

Perlahan kuperhatikan bagaimana ia neruskan pekerjaannya. Ia meneruskan perjalanan clipper itu sebaris demi sebaris. Aku sudah tidak perduli lagi bagamana rupaku jika semua ini selesai. 

  Oh… Rambutku. 

Aku hanya bisa meratap dalam hati. Menyaksikan rambutku berjatuhan disekujur tubuhku.

Sedikit demi sedikit aku merasakan kembali getaran clipper itu dikepalaku, memberi ku suatu sensasi yang aneh. Antara geli, nervous, dan khawatir. 

Tukang cukur itu dengan cepat berpindah ke sebelah kiriku. Dan kembali meneruskan pekerjaannya.

Tak lama kemudian ia berhenti. Ia menghampiri meja kecil didepanku. Melepas attachment di clippernya, dan berjalan kebelakangku. Tangan kirinya yang kokoh kembali menekan kepalaku. 

Kali ini aku sudah tak tahan lagi.

Aku sudah melihat bagaimana ia menggunduli pemuda tadi dengan clipper tanpa attachment. Akiu berusaha mengangkat kepalaku, namun tangannya lebih kuat menahan. Air mataku semakin deras mengalir.

Clipper itu kurasakan dileherku. Bergerak naik. Namun hanya sedikit.

Kemudian ia berpindah sedikit ke sebelah jalur pertama tadi. Demikian berulang ulang. 

Kemudian ia kembali ke meja kecil tadi. Mengambil gunting panjang dan sebuah sisir. Lalu mulai merapikan rambutku. Berulangkali ia mengangkat sebagian rambutku, lalu guntingnya dengan cepat melahap rambut yang menyembul diatasnya. Persis seperti yang dialami suamiku dengan tukang cukurnya.

Rambutku mulai terlihat rapi. Tidak sependek yang kubayangkan. Aku kelihatan seperti polwan. Aku tersenyum sendiri. Dulu waktu kecil aku pernah bercita-cita jadi polwan. Sekarang aku berpenampilan persis seperti mereka. 

Tak lama kemudian pria itu menghentikan aktifitasnya.

Mematut-matut hasil karyanya, lalu mengambil sikat panjang, dan berusaha membersihkan potongan rambut yang menempel di leher dan wajahku. Kemudian ia mengambil sebuah cermin kecil, dan memegangnya dibelakang kepalaku, hingga aku bisa melihat belakang kepalaku dari cermin. 

Ternyata rambutku tidak separah yang kukira. Hanya bagian bawah rambutku yang ditipiskannya. Kuangkat tanganku untuk merasakannya. Rasanya aneh. Aku merasa geli. Walaupun dalam hatiku aku mengutuk pria ini atas apa yang baru saja dilakukannya terhadap rambutku. 

Ia lalu membuka kain penutup tubuhku. Dengan handuknya ia membersihkan lagi sisa potongan rambut di bajuku. Lalu menyerahkan sebuah sisir padaku. Sambil menyisir aku membayangkan rambutku yang tadi menggantung panjang dan tebal dikepalaku. Kini  dengan mudah aku merapikan rambutku. Hasil karyanya lumayan juga. Walau aku masih tetap tidak nyaman dengan rambut sependek ini. 

Sambil mengusap sisa linangan air mata di sudut mataku, aku melangkah turun dari kursi itu. Suamiku menyambutku dengan mengulurkan tangannya. Sambil terus merekam kejadian itu. Kemudian ia merekam potongan rambutku yang berserakan disekeliling kursi barber itu. 

Tak sadar, aku berjongkok, dan meraih potongan rambutku. Mengumpulkannya.

Lantai barber ini begitu bersih. Tidak ada kotoran lain yang menempel pada potongan rambutku. Tukang cukur itu mengulurkan sebuah tas plastik kepadaku. Dan aku mulai memasukkan potongan rambutku kedalamnya.

Aku baru sadar jika saat ini aku melakukan apa yang dilakukan artis tadi di TV. 

Suamiku membayar si tukang cukur itu, lalu menggandengku keluar.

Di mobil aku membuka kantong plastik yang sejak tadi kudekap. Kuperhatikan potongan rambutku didalamnya, air mataku mulai menetes lagi. Melihat itu, suamiku mengambil tissue, menyerahkannya padaku.

Lalu tangannya menggapai ke kursi belakang, dan mengambil sebuah bungkusan lalu menyerahkannya padaku. 

Perlahan kubuka bungkusan darinya. Didalamnya ada sebuah kotak berwarna merah. Perlahan kubuka, dan aku terkejut melihat didalamnya. Kulihat ada jam tangan yang kuidamkan selama ini. Jam tangan yang membuat ku harus merelakan kehilangan rambutku. 

Suamiku berkata pelan," tadinya aku mau memberikan ini di hari ulang tahunmu. Namun sekarang kau boleh memilikinya. Sekalipun kamu kalah dalam taruhanmu". 

Aku terharu. Sekalipun untuk mendapatkan jam tangan idamanku darinya, aku harus kehilangan rambutku. Rupanya ia sudah membelikan jam ini dan hendak menjadikannya hadiah ulang tahunku.  Kini kusadar betapa ia ingin membahagiakanku. Dengan kemampuan yang ada padanya.

Dalam hati aku berjanji untuk membalas kasih sayangnya. Aku akan selalu menemani suamiku potong rambut. Bahkan aku tak akan keberatan untuk memotong rambutku di kedai pangkas bersamanya. 


Ratings breakdown


Rate this story now.
 


Enter some comments about this story or see what others have said on the forums.

Recommendations
If you liked this story, here are others that you might like.


RSS Feed By visiting HairSnip.com you are agreeing to our Terms of service
Add your story to HairSnip.com

Your Internet home for stories about male and female haircuts, head shaves, buzz cuts, alternative hairstyles, and more!
Copyright 2002-2012 by the owners of HairSnip.com