Lima tahun yang lalu, setelah lulus dari akademi sekretaris di Surabaya aku diterima bekerja di sebuah perusahaan keluarga. Perusahaan ini cukup terkenal di daerahku. Bergerak di bidang konstruksi, perusahaan ini memiliki cabang di banyak daerah. Manajemen di perusahaanku sangat ketat. Sedikit saja melanggar peraturan, maka kami harus bersiap-siap untuk mencari kerja di tempat lain. Meski demikian aku puas bekerja di tempat ini. Selain perusahaan ini cukup terpandang, gaji yang kuterima juga lumayan besar untuk ukuranku.
Aku diterima sebagai skertaris direktur perusahaan sekaligus pemiliknya. Seorang wanita paruh baya. Ia dikenal sangat tegas, bahkan cenderung sadis. Terutama jika mengahadapi karyawan yang berbuat kesalahan. Penampilan bosku anggun walau tampak tegas. Orangnya tinggi, rambutnya selalu tersanggul rapi. Dengan dandanan yang terjaga.
Peraturan perusahaan mengaharuskan karyawannya menjaga betul image persusahaan. Kami harus mengikuti dress code, tata cara bersikap, dll. Sebagai sekretaris aku membiasakan diri untuk menyanggul rambut sebahuku mengikuti gayanya. Ini pesan dari manager HRD ku.
Sudah hampir 3 bulan aku bekerja disini. Dan kulalui itu nyaris tapa cela. Secara pribadi bosku menyatakan kepuasannya atas hasi kerjaku. Dan ia sering mengingatkanku untuk mempertahankan nya hingga akhir masa percobaanku. Setelah itu aku dapat diangkat menjadi keryawan tetap. Wah senang sekali aku. Karyawan tetap di sini mendapatkan tambahan penghasilan, uang lembur, dan fasilitas2lain.
Suatu sore bos ku memanggilku. Ia memintaku untuk mempersiapkan diri mendampinginya melakukan kunjungan ke beberapa cabang perusahaan kami pada keesokan harinya. Ini pertama kalinya aku melakukan perjalanan seperti ini. Malam harinya aku mempersiapkan diri sebaik mungkin. Aku tak mau mengecewakannya, sekaligus tak mau kehilangan kesempatan untuk menjadi karyawan tetap di perusahaanya.
Kusiapkan baju kerja terbaikku, peralatan dan perlengkapan kerja, serta file2 yang harus kubawa.
Keesokan harinya kami berangkat pagi2 sekali. Kami melakukan perjalanan darat. Schedulle beliau ketat sekali. Kewalahan aku dibuatnya. Seringkali di dalam perjalanan ia memintaku untuk menyaipkan pidato, merekap hasil pertemuan, menyiapkan data untuk meeting berikutnya. Karenanya ia memintanya untuk semobil dengannya.
Walau letih sekali, namun aku berusaha bekerja dengan baik. Malamnya kami masih menghadiri jamuan makan malam yang disiapkan oleh kantor cabang kami. Setelah itupun kami masih melakukan diskusi kecil dengan para pemimpin kantor cabang. Keesokan harinya kembali pagi2 kami sudah berangkat untuk kembali tenggelam pada aktifitas yang sangat padat.
Aku mulai kewalahan. Setiap kali kembali ke hotel aku tidak dapat langsung istirahat. Aku masih harus membuat print out darilaporan hasil hari itu.
Malam itu printer yang kubawa ngadat. Padahal besok kami harus melakukan kunjungan ke proyek perluasan parik kami. Setelah sempat kelabakan, aku berhasil merayu petugas hotel tempat kami menginap untuk meminjamkan printernya. Akhirnya tugasku dapat kuselesaikan hingga larut malam . Dan baru lepas tengah malam aku bisa tertidur
Terkejut aku mendapati diriku terlambat bangun. Cepat aku mandi dan menyiapkan diri. Aku tak sempat menyanggul rambut sebahuku. Karena tak ada waktu lagi, aku hanya membiarkannya jatuh lepas di pundakku. Yang penting rapi pikirku. Tak sempat sarapan, segera kusambar semua dokumen yang harus kubawa. Dan bergegas menuju lobby.
Bosku sudah menungguku dengan wajah masam. Aku langsung meminta maaf atas keterlambatanku. Ia hanya diam sambil melirik ke rambutku. Aku tidak terlalu memikirkannya. Aku merasa sudah cukup merapikan rambutku.
Aku baru sadar ketika kami tiba di lokasi proyek. Tempat yang terbuka seperti ini membuat angin dengan leluasa merusak tatanan rambutku. Rambut sebahuku kocar-kacir dibuatnya. Berkali-kali aku harus merapikannya dengan tangan ku. Walau itupun tidak banyak membantu.
Bos ku berkali-kali melirik ke arahku. Terutama ketika aku terlambat mencatat perintahnya, atau terlambat meberikan data kepadanya karena sibuk dengan rambutku.
Lega rasanya setelah acara berakhir. Kami semua makan siang dulu di kantor cabang. Jadi aku masih sempat merapikan penampilan ku terutama rambutku. Setelah acara itu, kami langsung meluncur kembali ke surabaya.
Di mobil bosku berkata ketus kepadaku. “ Kita harus melakukan sesuatu dengan rambutmu", katanya. Aku hanya menjawab “ ya bu". Walau sambil berfikir apa sebenarnya maksudnya . Sepanjang perjalanan wajahnya tampak masam.
Satu jam kemudian kami sudah masuk kota Surabaya. Hari masih sore. Namun ia meminta sopir kami untuk tidak usah ke kantor. Wah aku bersyukur sekali. Berarti aku bisa pulang lebih cepat. Sudah penat rasanya tubuhku. Beristirahat di rumah menjadi impanku.
Tiba-tiba ia meminta sopirku merubah arah perjalanan kami. “Ke Ngagel pak", katanya. Kami pun berbelok meninggalkan jalan utama. Ketika sudah mendekati daerah Ngagel bos ku kembali berkata “Emka, pak". Supir kami menoleh lalu bertanya “ langganan bapak bu?"
“Ya", katanya ketus.
Aku masih belum tahu apa yang mereka bicarakan, ketika sopir membelokkan mobil ke tempat parkir sebuah ruko. Bosku membuka pintu dan berkata," ikut saya". Aku pun bergegas mengikutinya sambil meraih agendaku. "Tinggal saja agendamu", katanya. Walau bingung aku menuruti saja perintahnya dan mengikuti dibelakangnya.
Aku tak sempat melihat papan nama ruko itu.
Sebelum masuk ke ruko itu, tiba-tiba ia menoleh kearahku. “Masih mau bekerja ditempat saya?", katanya. Aku terkejut. “Masih bu", jawabku. “Kamu ingat peraturan perusahaan ?" tanyanya lagi. Terkejut , walau belum tahu apa maksudnya, aku hanya mengangguk.
Ia menggandeng tanganku, lalu membuka pintu dan menarikku masuk.
Aku terkejut. Itu adalah sebuah tempat pangkas rambut. Ada tiga tempat duduk dan 2 tukang pangkas paruh baya yang sedang melayani pelanggannya. Kedua tukang pangkas itu mengangguk hormat kepada bosku. Nampaknya sudah mengenal siapa bosku ini. Seorang diantaranya bertanya" dengan bapak bu?" Namun bosku hanya menggeleng.
Ia lalu menarikku ke kursi tunggu. Dan kami berdua duduk disana.
Dadaku berdebar kencang. Rupanya ia menyuruhku memotong rambutku . Namun di tempat pangkas semacam ini? Aku belum pernah melakukannya.
Sejak aku kuliah hingga bekerja aku selalu memotong rambutku di salon yang cukup ternama. Perawatan rambut pun rutin kulakukan. Minimal sebulan sekali aku creambath, dan toning. Itupun hanya di salon yang kuanggap baik.
Sekarang, aku harus memotong rambutku di tukang pangkas?
Dalam diam aku memperhatikan sekelilingku. Dihadapanku ada 3 buah kursi pangkas kayu yang terlihat sudah cukp tua. Walau terlihat kokoh. Didepannya ada kaca besar yang dibingkai pigura kayu yang juga terlihat seusia dengan kursinya. Lalu sebuah meja panjang. Tempat seluruh peralatan cukur itu diletakkan. Ada sisir, beberapa gunting dalam berbagai ukuran, juga beberapa clipper juga dalam berbagai ukuran.
Clipper ? Astaga. Biasanya di salon aku melihat hairstylistku menggunakannya pada pelanggan prianya. Dan biasanya untuk memotong rambut super pendek.
Hanya itu perabot yang ada di ruangan ini. Kursi yang kami duduki adalah kursi kuno, dIletakkan berjajar di sisi dihadapan deretan kursi pangkas tadi. Di sudut belakang ada sebuah meja yang nampaknya menjadi meja kasir. Sederhana sekali. Ruangan ini luas, namun tampak bersih. Potongan rambut yang biasanya terlihat berserakan di tempat pangkas lain tidak ada disini.
Dadaku berdebar lebih kencang. Aku tak tahu apa yang ada di benak bosku. Tapi melihat wajahnya yang masam ketika melirik rambutku, nampaknya aku akan kehilangan rambut indahku ini.
Aku terkejut ketika salah satu tukang pangkas itu selesai melayani pelanggannya. Dengan terampil ia membersihkan sisa potongan rambut di tubuh bapak itu. Yang kemudian berdiri dan membayar si tukang pangkas, lalu berjalan keluar. Kulihat ia melirikku. Mungkin bingung apa yang kulakukan disini.
Tukang pangkas itu dengan cepat membersihkan kursi, menyapu lantai lalu menoleh ke bosku. Aku meliriknya, namun bosku diam saja. Iapun lalu meninggalkan kami. Ketika kulirik bosku, kulihat ia memperhatikan tukang pangkas satunya. Orangnya sudah cukup tua, dengan tubuh tinggi besar. Nampaknya ini yang dipilih bosku untuk menanganiku. Kuperhatikan ia sedang asik melayani pelanggannya. Dengan cepat ia mencukur rambut bapak itu. Dalam diam aku memperhatikan betapa ia nampak tekun melakukan pekerjaannya.
Tak lama kemudian ia pun sudah menyelesaikan pekerjaannya. Kembali dadaku berdegup kencang. Kini giliranku pikirku.
Setelah bapak itu membayarnya, ia pun membersihkan kursinya, menyapu lantai, lalu berdiri di samping kursinya menghadap kami berdua.
Aduh gemetar kakiku. Kurasakan tanganku berkeringat dingin. Namun bosku dengan cepat menyambar tanganku, menariku dan mendorongku ke arah kursi itu. Perlahan aku melangkah kedepan. Menaiki step yang ada di depan kursi itu, lalu menjatuhkan tubuhku perlahan dikursi itu. Aku berusaha rileks dan menyandarkan punggungku. Tanpa sadar tanganku mencengkeram erat pegangan kursi.
Si tukang pangkas lalu menoleh ke bosku dan bertanya sopan, “ dipotong gimana bu?"
“Pendekkan saja. Biar ringkes", katanya pendek.
“Pendek bu?" tanya tukang pangkas itu lagi.
“Ya pendek. Potong aja kaya laki", kata bosku ketus.
Tukang pangkas itu terkejut, tapi lalu mengangguk.
Aku sama terkejutnya. Di cermin kulihat pantulan wajahku. Seorang wanita muda dengan rambut tebal hitam sebahu yang nampak duduk ketakutan.
Si tukang pangkas meletakkan kain putih dipangkuanku. Lalu dengan cepat menariknya kebelakang. Tangannya yang besar mendorong kepalaku kedepan agar rambutku tak terjepit kainnya. Lalu ia membalutkan kain itu dileherku dan menjepitnya.
Aku kini terperangkap didalamnya. Kulihat bayanganku di cermin. Rambut hitam ku tampak kontaras diatas kain putih itu. Begitu tebal dan hitam.
Ia lalu mengambil sebuah sisir dan mulai menyisir rambutku. Tangannya yang kokoh menyisir rambutku. Kasar sekali. Kurasakan kepalaku tertarik-tarik ke segala arah disisirnya. Lega rasanya ketika akhirnya ia menghentikan pekerjaannya.
Namun kengerian itu kini baru dimulai. Ia mengambil sebuah gunting lalu berdiri di sebelah kananku. Kulirik bosku. Ia berdiri di sebelah kiriku memperhatikan semua yang dilakukan tukang pangkas ini.
Ia nampak siap memulai pekerjaannya. Tangan kirinya beberapa kali menyisir rambut di sisi kananku. Lau tangan kanannya mengangkat gunting itu.
Dan akhirnya,, Krreeess…..krrreeeess……
Ia mulai mengguntingi rambutku. Aku memejamkan mataku menahan tangis. Ketika kubuka mataku, rambutku masih menggantung hingga dibawah telinga. Sementara seonggok potongan rambutku tergeletak tak berdaya di pangkuanku.
Tiba-tiba bosku membentak “ langsung pendekkan saja. Saya tak punya banya waktu".
Tukang pangkas itu terkejut dan menghentikan pekerjaannya. Menukar guntingnya dengan gunting yang lebih besar. Dan kembali ke sebelahku. Namun kini gerakannya lebih cepat. Ia menyendok sebagian rambut di sisi kananku. Lalu dengan cepat gunting besarnya membabat rambut yang menyembul diatas sisir. Kreess.
Dan rambutku pun jatuh di pangkuanku. Aku terkejut. Namun aku tak berdaya. Dengan cepat ia melakukan pekerjaannya. Rambut tebalku jatuh di sekujur pundak, pangkuanku dan di lantai sekitar tempatku duduk.
Ketika ia pindah ke belakangku, kulihat telingaku. Selama ini ia tersembunyi dibaik tebalnya rambutku. Kini ia mucul setelah rambut yang menutupinya di pangkas oleh tukang pangkas ini.
Kini rambut dibelakang kepalaku terasa tertarik-tarik. Kulihat di cermin, ia mengangkat sebagian rambutku dengan sisirnya tinggi ke atas kepalaku. Beberapa kali ia malakukannya, lalu dengan cepat gunting mautnya memotong rambutku yang tersembul diatas sisir itu. Dan lagi-lagi potongan rambut ku jatuh ke wajahku, dan akhirnya tergeletak tak berdaya di pangkuanku.
Cepat sekali ia melakukan pekerjaannya. Kulihat beberapa kali ia melirik ke wajahku. Aku yakin ia tahu perasaanku. Air mataku mulai mengalir tak dapat kubendung lagi. Namun ketika kulirik bosku, aku merasa melihatnya tersenyum. Aku merasa ia menikmati melihatku dipermalukan seperti ini. Ia tetap berdiri disampingku memperhatikan apa yang dilakukan tukang pangkas ini.
Aku tak bisa menduga seberapa pendek ia memotong rambut dibelakang kepalaku. Namun aku yakin tak banyak lagi yang tersisa.
Ketika Ia pindah ke sebelah kiriku, aku sudah tidak perduli lagi. Aku sudah kehilangan sebagian besar rambutku. Aku juga tak tahu lagi akan menjadi apa penampilanku nantinya. Bosku pindah ke sebelah kananku. Senyumnya nampak lebar melihat bekas perbuatan tukang pangkas itu di kepala sebelah kananku.
Tukang pangkas itu pun sudah tak memperdulikanku lagi. Ia asyik mengerjakan tugasnya. Dan sebentar saja aku sudah kehilangan rambut di sebelah kananku. Telingaku terliha menyembul setelah rambut ku di babatnya. Semakin lama semakin kasar caranya memperlakukanku.
Kupandangi wajahku di cermin. Aneh kelihatannya. Di sisi kepalaku rambutku menyerupai potongan lelaki. Namun di atas kepalaku rambutku masih tebal manggantung.
Namun itu pun tak lama. Segera saja ia menyisir rambut di atas kepalaku. Setelah mengangkatnya dengan sisirnya, langsung saja gunting mautnya membabat habis rambut yang menyembul diatas sisirnya. Cepat sekali. Potongan rambutku beterbangan dimana mana. Kututup mataku. Aku tak ingin potongan rambutku terbang ke mataku. Aku juga sudah tak kuat melihat apa yang terjadi padaku. Bayangan perlakuan sopan dari hairstylisku perlahan pudar. Bayangan rambut hitam tebal ku pun hilang sudah.
Kubuka mataku ketika kurasakan hening. Kulihat ia sedang mematut-matut hasil karyanya. Bosku tersenyum lebar di sebelahku. Di cermin kulihat pantulan wajah seoarang wanita malang. Matanya sembab, basah karena air mata.
Namun rambut itu. Rambut di kepala wanita itu tak lebih seperti potongan rambut laki-laki. Pendek sekali.
Tukang pangkas itu membuka kain penutup tubuhku. Dan mengibaskan potongan rambutku ke lantai.
Bosku membuka tasnya dan membayar tukang pangkas itu. Tanpa menunggu kembalian, ia melangkah keluar meninggalkanku.
Agak lama aku terduduk lemas tercenung melihat potongan rambut hitamku yang berserakan menutupi lantai. Rambut indah, hitam dan tebal kebanggaanku kini terserak di lantai tak berdaya disekelilingku.
Kudengar klakson mobil bosku. Perlahan aku bangkit dari kursi itu. Dan berjalan keluar.
Aku merasa melihat tukang pangkas itu tersenyum lebar melihatku.
Rate this story now.
Enter some comments about this story or see what others have said on the forums.
Recommendations
If you liked this story, here are others that you might like.
Your Internet home for stories about male and female haircuts, head shaves, buzz cuts, alternative hairstyles, and more!
Copyright 2002-2012 by the owners of HairSnip.com